Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)

					Lihat Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia (inpress)

mceclip0-4dd1f098b8ffbdb829782f30fd9522b0.png

JFI Online Volume 18 Nomor 1, Januari 2026

Diterbitkan: 30-01-2026

Artikel

  • Gambaran Pola Penggunaan Antipsikotik Pada Pasien Skizofrenia Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat

    Entris Sutrisno, Yani Mulyani, Jajang Japar Sodik
    1-9
    Abstrak: 46 | PDF 1-9: 28

    Abstract

    Indonesia mengalami peningkatan kasus gangguan mental yang mengkhawatirkan setiap tahunnya. Pada tahun 2019, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia menderita skizofrenia. Obat antipsikotik merupakan pilihan pengobatan utama untuk skizofrenia, karena membantu mengurangi gejala psikotik dan menurunkan kemungkinan berkembangnya gangguan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penggunaan obat antipsikotik pada pasien skizofrenia di bangsal rawat inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif non-eksperimental dengan pengumpulan data retrospektif. Data sekunder digunakan untuk analisis. Penelitian ini memfokuskan pada 194 rekam medis pasien yang menerima pengobatan antipsikotik antara Januari hingga Desember 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56,19% obat antipsikotik yang diresepkan adalah obat kombinasi, sementara 43,81% adalah obat tunggal. Kombinasi obat antipsikotik yang paling umum adalah haloperidol-klosapin, yang mencapai 36,60% dari resep, dan risperidon, sebagai obat tunggal, mencapai 19,67% dari resep

  • Aktivitas Antioksidan dan Profil Fitokimia Ekstrak Metanol Daun Bauhinia purpurea L. dari Pekanbaru

    Haiyul Fadhli, Hefriza Putri
    10-18
    Abstrak: 31 | PDF 10-18: 23

    Abstract

    Antioksidan merupakan komponen bioaktif penting yang berperan dalam menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan oksidatif pada sel. Tanaman Bauhinia purpurea L., yang dikenal secara lokal sebagai daun kupu-kupu, telah dilaporkan mengandung berbagai senyawa fenolik dan flavonoid dengan potensi aktivitas antioksidan yang menjanjikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun Bauhinia purpurea L. yang dikumpulkan dari Pekanbaru. Skrining fitokimia menunjukkan keberadaan flavonoid, fenolik, terpenoid, steroid, dan alkaloid. Kadar total fenolik dan flavonoid masing-masing sebesar 50,79 ± 1,82 mg GAE/g dan 59,10 ± 13,03 mg QE/g ekstrak. Aktivitas antioksidan diukur menggunakan metode DPPH menghasilkan nilai IC₅₀ sebesar 67,58 µg/mL, menunjukkan aktivitas antioksidan sedang. Hasil ini mengindikasikan bahwa daun Bauhinia purpurea dari Pekanbaru memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan produk herbal dan farmasi. Faktor geografis dan metode ekstraksi berperan penting dalam menentukan kandungan bioaktif dan aktivitas antioksidan ekstrak.

  • Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kale Hijau dan Ungu (Brassica oleracea L.)

    Umiyuliatul Nurfarida, Martina Kurnia Rohmah, Yani Ambari
    19-29
    Abstrak: 18 | PDF 19-29 (English): 5

    Abstract

    Kale (Brassica oleracea L.) merupakan tanaman. dari famili Brassicaceae  yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. Daun kale mengandung vitamin C, senyawa fenolik, dan pigmen yang berpotensi sebagai antioksidan. Daun kale yang sering dikonsumsi masyarakat adalah kale hijau dan kale ungu. Penelitian.. ini bertujuan.. untuk mengetahui perbandingan antioksidan antara kale hijau dan kale ungu dengan metode... DPPH. Serbuk simplisia daun kale hijau dan ungu dimaserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil ekstraksi kemudian diuji kandungan fitokimianya secara kualitatif menggunakan skrining fitokimia. Aktivitas.. antioksidan. diuji secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan metode. DPPH. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan yang dilihat dari nilai IC50 dari Vitamin C, ekstrak. etanol kale ungu, dan kale hijau. Berturut-turut adalah 3.19, µg/ml (antioksidan sangat kuat), 100.03 µg/ml (antioksidan kuat), dan 144.35 µg/ml (antioksidan sedang). Aktivitas antioksidan daun Kale ungu yang lebih kuat dibandingkan dengan daun Kale hijau.

  • Aktivitas Antioksidan Krim Hidrofilik Ekstrak Metanol Bunga Cempaka Putih (Magnolia alba)

    Ni Nyoman Yudianti Mendra, Dewa Ayu Yunika Pratiwi, Debby Juliadi
    30-35
    Abstrak: 17 | PDF 30-35 (English): 6

    Abstract

    Bunga cempaka putih (Magnolia alba) memiliki makna budaya bagi masyarakat Bali, yaitu digunakan dalam upacara keagamaan, hiasan pengantin, dan memperkaya aroma dupa. Selain kegunaan tersebut, bunga cempaka putih mengandung alkaloid, steroid, terpenoid, flavonoid, dan fenol yang beraktivitas antioksidan. Dengan demikian sangat menarik untuk menentukan aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol bunga cempaka putih yang diformulasikan ke dalam krim minyak dalam air (m/a) dalam penelitian ini.. Ekstrak metanol bunga cempaka putih diformulasikan ke dalam tiga formula krim, FI, FII, dan FIII, dengan konsentrasi masing-masing 4, 8, dan 12%. Aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil) dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 516 nm. Aktivitas antioksidan berdasarkan nilai IC50 untuk FI, FII, dan FIII adalah 29,72 µg/ml, 25,50 µg/ml, dan 25,05µg/ml, sedangkan nilai IC50 antioksidan pembanding, vitamin C, adalah 2,93 µg/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krim m/a ekstrak metanol bunga cempaka putih memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat secara in vitro. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi kemampuan formula ini dalam memperlambat mekanisme penuaan akibat paparan cahaya matahari melalui studi in vivo.

  • Kepuasan Pasien Covid-19 terhadap Layanan Konseling Obat Jarak Jauh oleh Apoteker: Sebuah Studi Lintas Sektoral

    Fonny Cokro, Yenni Ferlia, Hadiyanto Usman
    36-45
    Abstrak: 24 | PDF 36-45 (English): 12

    Abstract

    Telemedicine telah digunakan secara luas sejak pandemi COVID-19. Namun, interaksi non-tatap muka membuat layanan telemedicine menjadi lebih menantang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kepuasan layanan konseling obat yang diberikan oleh apoteker melalui telemedicine di Jakarta, Indonesia; dan menilai korelasi antara jenis telemedicine dan penyediaan layanan konseling obat oleh apoteker. Penelitian ini bersifat cross-sectional, dan data dikumpulkan pada bulan Februari-Mei 2022 melalui metode sampling Cluster dan Snowballing. Chi-Square digunakan untuk mengukur hubungan model telemedicine dengan pemberian konseling obat. Dari 448 responden, sebanyak 85,71% mendapatkan konseling, dengan kinerja konseling apoteker bernilai baik sebesar 64,06-98,18%. Lebih dari 80% responden merasa puas pada seluruh aspek kepuasan. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis telemedicine dengan layanan konseling obat (p=0,032). Penelitian ini menyoroti pentingnya mengoptimalkan pendekatan telemedicine untuk meningkatkan pelayanan pasien dalam layanan farmasi.

  • Analisis Cost of Illness Pasien Covid-19 di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta Barat

    Sherly Tandi Arrang, Irene Fira Rosa, Dion Notario
    46-53
    Abstrak: 29 | PDF 46-53: 17

    Abstract

    COVID-19 merupakan penyakit yang muncul pertama kali ota Wuhan, China pada tahun 2019 dan kasus pertama di Indonesia terdeteksi pada Maret 2020. Peningkatan kasus terjadi dengan cepat dan memerlukan penanganan yang serius sehingga menimbulkan beban ekonomi. Analisis beban ekonomi penyakit COVID-19 perlu dilakukan. Analisa biaya pada penelitian ini menggunakan metode Cost Of Illness (COI). Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif, dengan data periode Desember 2020- Juli 2021 dari Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan Jakarta Barat. COI dihitung dari biaya medis langsung pasien. Metode analisis yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda menggunakan aplikasi Rstudio. Jumlah responden adalah 138 pasien. Pada hasil analisa didapatkan total rata-rata biaya medis langsung pasien rawat inap COVID-19 berdasarkan usia yaitu Rp. 6.580.657 (0-5 tahun), Rp. 8.317.592 (6-18 tahun), Rp. 8.595.254 (19-30 tahun), Rp. 11.787.268 (31-45 tahun), Rp. 12.537.695 (46-59 tahun), dan Rp. 16.250.460 (>60 tahun). Berdasarkan jenis kelamin Rp. 12.416.202 (perempuan) dan Rp. 11.285.017 (laki-laki). Berdasarkan lama rawat inap yaitu Rp. 7.881.911 (<7 hari), Rp. 12.721.150 (7-14 hari), dan Rp. 26.282.724 (>14 hari). Berdasarkan tingkat keparahan yaitu Rp. 10.096.730 (ringan), Rp. 10.633.881 (sedang), dan Rp. 16.597.570 (berat). Berdasarkan penyakit komorbid yaitu Rp. 16.981.774 (tanpa komorbid), Rp. 19.670.640 (1 komorbid), Rp. 22.990.759 (2 komorbid), dan Rp. 30.231.603 (>2 komorbid). Berdasarkan hasil uji pengaruh, terdapat pengaruh signifikan antara lama rawat inap, tingkat keparahan, dan penyakit komorbid terhadap biaya medis langsung (P<0,05), sedangkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara usia dan jenis kelamin terhadap biaya medis langsung perawatan pasien rawat inap COVID-19 (P>0,05).

  • Analisis Komparatif Sosiodemografi Terhadap Kepatuhan Penggunaan Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi RSUD Puri Husada Tembilahan

    Husnawati Husnawati, Erniza Pratiwi, Yellia Syafitri, Cindy Oktaviana Laia, Reni Zulfitri
    54-66
    Abstrak: 19 | PDF 54-66: 10

    Abstract

    Hipertensi merupakan suatu kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Pengobatan hipertensi ditujukan untuk menurunkan probabilitas kesakitan, komplikasi dan kematian pada penderitanya. Dalam hal ini kepatuhan penggunaan antihipertensi merupakan suatu hal yang penting, karena hipertensi tidak dapat disembuhkan namun harus selalu dikontrol agar dapat dikendalikan dan menghindari terjadinya komplikasi yang dapat menyebabkan kematian. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan minum obat pada pasien adalah sosiodemografi pasien meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sosiodemografi terhadap kepatuhan penggunaan antihipertensi pada pasien hipertensi di RSUD Puri Husada Tembilahan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross sectional dengan metode deskriptif analitik. Sampel pada penelitian ini adalah pasien dengan diagnosa utama hipertensi dengan atau tanpa penyakit penyerta yang berobat ke RSUD Puri Husada Tembilahan pada saat dilaksanakannya penelitian dan memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 4 aspek sosiodemografi yang diteliti yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status pekerjaan, hanya tingkat pendidikan yang mempengaruhi tingkat kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi (nilai P = 0,000), dimana responden dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dibandingkan responden dengan tingkat pendidikan rendah.

  • Kepuasan Pasien pada Telefarmasi vs Farmasi Konvensional: Analisis SERVQUAL

    Dion Notario, Lusy Noviani, Wanda Aurina
    67-74
    Abstrak: 33 | PDF 67-74 (English): 18

    Abstract

    Telefarmasi menghadirkan solusi yang menjanjikan untuk mengatasi hambatan geografis apotek tradisional. Namun, kekhawatiran terhadap kualitas layanan yang diberikan melalui telefarmasi menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tingkat kepuasan pasien. Studi ini bertujuan untuk membandingkan kepuasan pasien antara layanan telefarmasi dan apotek konvensional serta mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. Sebuah studi potong lintang dilakukan pada bulan Maret dan April 2024, dengan melibatkan 136 sampel pelanggan dari Apotek Pendidikan Atma Jaya di Jakarta Utara. Kepuasan pasien diukur menggunakan kuesioner yang telah divalidasi, dan dimensi kepuasan utama diidentifikasi melalui Importance-Performance Analysis (IPA). Analisis ini mengungkapkan bahwa layanan telefarmasi dan apotek konvensional menunjukkan kekuatan dalam hal Assurance dan Responsiveness, yang sangat penting bagi kepuasan pelanggan (kuadran II : keep up the good work). Di saat yang sama, Reliability dan Empathy kurang penting bagi layanan farmasi konvensional dan telefarmasi (kuadran III : low priority). Sedangkan dimensi Tangible masih harus ditingkatkan (kuadran I : concentrate here). Temuan ini menunjukkan bahwa layanan telefarmasi dapat secara efektif mencapai tingkat kepuasan pasien yang sebanding dengan apotek tradisional dalam dimensi kepuasan yang meliputi Assurance, Responsiveness, Reliability, Empathy, dan Tangible.

  • Karakterisasi Farmakognostik dan Skrining Fitokimia Daun Tabebuia rosea sebagai Bahan Baku Obat Herbal

    Deka Prismawan, Michael Michael, Felicia Natalia
    75-81
    Abstrak: 29 | PDF 75-81: 8

    Abstract

    Tabebuia rosea merupakan tanaman tropis yang potensial sebagai bahan baku obat tradisional. Bagian-bagian dari tanaman ini, seperti daun, kulit batang dan bunga, memiliki aktivitas biologis yang potensial seperti antiinflamasi, antibakteri, antioksidan, antidiabetes, dan antiproliferatif. namun karakterisasi farmakognostik dan fitokimianya masih terbatas, terutama pada bagian daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik farmakognostik dan kandungan fitokimia daun T. rosea sebagai dasar standardisasi simplisia. Daun T. rosea dikoleksi, dikeringkan, dan dihaluskan menjadi serbuk simplisia. Evaluasi meliputi analisis organoleptik, makroskopik, mikroskopik, kadar susut pengeringan, kadar abu total, serta penapisan fitokimia untuk mendeteksi senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, kumarin, triterpenoid, dan fenolik. Daun T. rosea memiliki bentuk lanceolat, tepi rata, ujung meruncing, dan venasi menyirip. Analisis mikroskopik menunjukkan adanya trikoma, kristal oksalat, dan parenkim. Kadar susut pengeringan sebesar 7,9% dan kadar abu total 11,91%. Uji fitokimia mengungkap keberadaan flavonoid, tanin, fenolik, dan alkaloid, sementara saponin dan kumarin tidak terdeteksi. Hasil penelitian ini memberikan data dasar untuk identifikasi dan standardisasi simplisia daun T. rosea. Keberadaan senyawa bioaktif seperti flavonoid dan alkaloid mendukung potensi pengembangannya sebagai bahan baku fitofarmaka. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengisolasi dan menguji aktivitas farmakologis senyawa-senyawa tersebut.

  • Pengaruh Pelayanan Informasi Obat (PIO) terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien Swamedikasi di Banyumas

    Thariq Ahmad Thorir, Alfarid Kurnialandi, Wahyu Utaminingrum, Didik Setiawan
    82-90
    Abstrak: 20 | PDF 82-90: 5

    Abstract

    Nyeri merupakan permasalahan kesehatan yang turut mempengaruhi kualitas hidup manusia dan sering ditangani melalui swamedikasi, sehingga berisiko medication errors (kesalahan pengobatan). Pelayanan Informasi Obat (PIO) berperan dalam mencegah kejadian kesalahan pengobatan, namun implementasinya masih belum optimal. Maka dari itu, dilakukan penelitian untuk melihat efektivitas PIO dalam menurunkan intensitas nyeri di Banyumas. Penelitian ini merupakan quasi eksperimen dengan rancangan pretest-posttest. Populasi penelitian ini adalah pasien swamedikasi dengan gejala nyeri pada 10 apotek di Kabupaten Banyumas. Sampel penelitian ini sejumlah 200 responden, termasuk kelompok kontrol dan intervensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat (Mann-Whitney test). Setelah diberikan swamedikasi, rerata skor nyeri kelompok intervensi (diberikan PIO) sebesar 4,6 sedangkan pada kelompok control (tidak diberikan PIO) sebesar 3,59 dengan p-value sebesar 0,00 (α ≤ 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada kedua kelompok. Temuan ini menegaskan pentingnya PIO oleh apoteker dalam menurunkan intensitas nyeri mendorong efektivitas pengobatan pada pasien swamedikasi.

  • Pengetahuan Ibu dan Pengobatan Mandiri untuk Batuk Balita: Studi Cross-Sectional di Apotek di Wilayah Tangerang (2024)

    Erlia Anggrainy Sianipar, Lidya Himawan, Sherly Tandi Arrang
    91-97
    Abstrak: 34 | PDF 91-97 (English): 14

    Abstract

    Batuk merupakan gejala umum yang sering dialami oleh balita, dipicu oleh berbagai faktor seperti polusi udara, perubahan cuaca, dan alergi. Di wilayah Tangerang, prevalensi kasus batuk pada balita tergolong tinggi, sehingga banyak ibu melakukan swamedikasi terhadap aknya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dan perilaku swamedikasi batuk pada balita di sebuah apotek di wilayah Tangerang. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional) yang melibatkan 80 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi responden berdasarkan usia, pendidikan, pekerjaan, dan sumber informasi mengenai swamedikasi. Analisis bivariat dilakukan menggunakan metode Chi-Square untuk mengevaluasi hubungan antarvariabel. Mayoritas responden berusia antara 18–44 tahun, dengan 38% memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA, 81,25% bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan 42,5% memperoleh informasi tentang swamedikasi dari tenaga kesehatan. Meskipun 62,5% responden memiliki tingkat pengetahuan rendah mengenai swamedikasi batuk, sebanyak 60% menunjukkan perilaku swamedikasi yang positif dalam menangani batuk pada balita. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dan perilaku swamedikasi batuk pada balita. Sebagian besar ibu di Apotek Bintang Tangerang memiliki pengetahuan yang terbatas terkait swamedikasi batuk pada balita, namun menunjukkan perilaku swamedikasi yang positif. Selain itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan perilaku tersebut.

  • Efektivitas Intervensi Pendidikan dan Penggunaan Obat Herbal dalam Mencegah Stunting: Sebuah Studi di Kalangan Kader Kesejahteraan Keluarga di Desa Ababi, Bali

    Viviana Bali Sua, I Gusti Ayu Rai Widowati, I.G.N Windra Wartana Putra, I Putu Riska Ardinata, Ida Ayu Manik Partha Sutema
    98-104
    Abstrak: 1 | PDF 98-104 (English): 0

    Abstract

    Stunting masih menjadi prioritas masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Desa Ababi, Karangasem, yang memiliki prevalensi stunting tertinggi di Provinsi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi edukatif dalam meningkatkan pengetahuan kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) mengenai stunting dan pemanfaatan herbal medicine untuk pencegahannya. Desain penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 40 kader PKK yang dipilih secara purposive dan memenuhi kriteria inklusi, yaitu aktif dalam kegiatan kesehatan masyarakat. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 23–35 tahun (37,5%), berstatus ibu rumah tangga (80%), berpendidikan dasar (35%), dan memiliki anggota keluarga sebanyak 4–5 orang (50%). Sebelum intervensi, 82,5% responden memiliki pengetahuan baik mengenai stunting, dan 60% memiliki pengetahuan baik mengenai penggunaan herbal medicine. Setelah intervensi, seluruh responden (100%) menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan pada kedua aspek (p<0,001). Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pekerjaan dengan pengetahuan tentang stunting (p=0,004), serta antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan tentang penggunaan herbal medicine (p=0,043). Kesimpulannya, intervensi edukatif ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan kader tentang pencegahan stunting dan pemanfaatan herbal medicine. Studi ini mendukung peran apoteker dan tenaga kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat untuk mencapai program “Bali Bebas Stunting”.

  • Molecular Docking Senyawa Bioaktif Tempuyung (Sonchus arvensis) Terhadap Reseptor ER-α Sebagai Inhibitor Kanker Payudara

    Suci Asaumi, Fajriah Azra, Arif Juliari Kusnanda
    105-112
    Abstrak: 0 | PDF 105-112: 0

    Abstract

    Kanker payudara adalah penyakit dimana sel-sel dalam jaringan payudara berubah dan membelah tidak terkontrol, yang menghasilkan benjolan. Reseptor yang berperan dalam penyebab kanker payudara adalah ER-α (Esterogen reseptor alpha). Penelitian ini bertujuan menyelidiki potensi senyawa bioaktif tanaman tempuyung (Sonchus arvenis) dalam menghambat reseptor ER-α (PDB ID: 3ERT) secara in-silico untuk pengembangan obat baru penyakit kanker payudara. Senyawa bioaktif pada tanaman tempuyung berpotensi menjadi inhibitor ER-α sebagai obat kanker payudara. Metode yang digunakan berupa prediksi lipinski’s, prediksi farmakokinetik dan toksisitas, dan simulasi molecular docking dengan perangkat lunak MOE. Berdasarkan analisa skrining dan simulasi molecular docking dari 25 senyawa bioaktif tanaman tempayug terdapat senyawa luteolin yang dapat berikatan dengan sisi aktif reseptor ER-α dengan afinitas pengikatan sebesar -6,34 Kcal.mol-1 dan RMSD 0,77 Å, pada asam amino Glu 353, Gly 521, dan Leu 346. Hasil ini menunjukkan senyawa luteolin dapat dijadikan kandidat obat kanker payudara.

  • Profil Sitotoksik ekstrak Lithocarpus bancanus dan Fraksinya Terhadap Lini Sel Kanker Paru-Paru A549

    Hilwan Yuda Teruna, Rudi Hendra, Retno Puji Lestari, Muhammad Almurdani, Rizky Abdulah
    113-116
    Abstrak: 0 | PDF 113-116: 0

    Abstract

    Lithocarpus bancanus merupakan tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat Provinsi Riau, Indonesia. Tumbuhan ini berupa pohon yang di provinsi ini dikenal dengan nama mempening. Dalam penelitian ini telah dikaji profil aktivitas sitotoksik ekstrak metanol, fraksi n-heksana, fraksi diklorometana, dan fraksi etil asetat dari daun L. bancanus terhadap sel kanker paru –paru (lini sel A549) dengan menggunakan metode MTT assay.  Metode perhitungan IC50 menggunakan kurva dosis-respon yang dianalisis dengan model 4PL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sitotoksik ekstrak metanol, fraksi n-heksana, fraksi diklorometana, dan fraksi etil asetat  dengan aktivitas IC50 berturut-turut 455,1, 361,9, 132,9 dan 304,7 mL dengan fraksi diklorometana memiliki aktivitas sitotoksik yang relatif tinggi dengan nilai IC50 sebesar 132,9 mL. Senyawa obat untuk kontrol positif yang digunakan adalah cisplatin dengan IC50 103,9 mL. Sementara itu ekstrak metanol, fraksi
    n-heksana dan etil asetat memiliki aktivitas sitotoksik yang rendah dengan nilai IC50 besar dari 300 mL. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fraksi diklorometana dapat dijadikan dasar untuk pencarian senyawa bioaktif antikanker melalui proses isolasi lebih lanjut.